Translate

Sunday, May 15, 2011

Analisis Shiftshare

Pengertian Analisis Shift-share

Analisis Shift-share merupakan suatu analisis dengan metode yang sederhana dan sering dilakukan oleh praktisi dan pembuat keputusan baik lokal maupun regional di seluruh dunia untuk menetapkan target industri/sektor dan menganalisis dampak ekonomi. Analisis Shiftshare memungkinkan pelaku analisis untuk dapat mengidentifikasi keunggulan daerahnya dan menganalisis industri/sektor yang menjadi dasar perekonomian daerah.

Analisis Shift-share juga merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektor atau industri pada perekonomian regional maupun lokal. Analisis Shift-share menggambarkan kinerja sektor-sektor di suatu wilayah dibandingkan dengan perekonomian nasional. Bila suatu daerah memperoleh kemajuan sesuai dengan kedudukannya dalam perekonomian nasional, maka akan dapat ditemukan adanya shift (pergeseran) hasil pembangunan perekonomian daerah. Selain itu, laju pertumbuhan sektorsektor di suatu wilayah akan dibandingkan dengan laju pertumbuhan perekonomian nasional beserta sektor-sektornya. Kemudian dilakukan analisis terhadap penyimpangan yang terjadi sebagai hasil dari perbandingan tersebut. Bila penyimpangan itu positif, hal itu disebut keunggulan kompetitif dari suatu sektor dalam wilayah tersebut (Soepono, 1993:44)

Analisis Shift-share dikembangkan oleh Daniel B. Creamer (1943). Analisis ini digunakan untuk menganalisis perubahan ekonomi (misalnya pertumbuhan atau perlambatan pertumbuhan) suatu variabel regional sektor/industri dalam suatu daerah. Variabel atau data yang dapat digunakan dalam analisis adalah tenaga kerja atau kesempatan kerja, nilai tambah, pendapatan, Pendapatan Regional Domestik Bruto (PDRB), jumlah penduduk, dan variabel lain dalam kurun waktu tertentu.

Dalam analisis Shift-share, perubahan ekonomi ditentukan oleh tiga komponen sebagai berikut.

1. pertumbuhan ekonomi nasional (national growth)

2. bauran industri (industry mix)

3. regional share

Pengaruh Bauran Industri disebut proportional shift atau bauran komposisi. Analisis proportional shift dilakukan dengan membandingkan suatu sektor sebagai bagian dari perekonomian daerah dengan sektor tersebut sebagai bagian dari perekonomian nasional. Komponen ini menunjukkan apakah aktivitas ekonomi pada sektor tersebut tumbuh lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan pertumbuhan aktivitas ekonomi secara nasional.

Pengaruh bauran industri akan positif apabila pertumbuhan variabel regional suatu sector lebih besar daripada pertumbuhan variabel regional total sektor di tingkat nasional. Sebaliknya bauran industri akan negatif apabila pertumbuhan variabel regional suatu sector lebih kecil dibandingkan pertumbuhan variabel tersebut di tingkat nasional. Nilai positif atau negatif tersebut akan menunjukkan tingkat spesialisasi suatu sektor, yaitu tumbuh lebih cepat atau lebih lambat terhadap perekonomian nasional. Jadi, suatu daerah yang memiliki lebih banyak sektor-sektor yang tumbuh lebih cepat secara nasional akan memiliki pengaruh bauran industri yang positif. Demikian juga sebaliknya, suatu daerah yang memiliki lebih banyak sektor-sektor yang tumbuh lebih lambat secara nasional akan memiliki pengaruh bauran industri yang negatif.

Keunggulan Analisis Shift-share

Keunggulan analisis Shift- share antara lain (Stevens B.H. dan Moore dalam Modul Isian Daerah untuk SIMRENAS):

1. Analisis Shift-share tergolong sederhana. Namun demikian, dapat memberikan gambaran mengenai perubahan struktur ekonomi yang terjadi.

2. Memungkinkan seorang pemula mempelajari struktur perekonomian dengan cepat.

3. Memberikan gambaran pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur dengan cukup akurat.

Kelemahan Analisis Shift-share

Kelemahan analisis Shift-share, yaitu:

1. Hanya dapat digunakan untuk analisis ex-post.

2. Masalah benchmark berkenaan dengan homothetic change, apakah t atau (t+1) tidak dapat dijelaskan dengan baik.

3. Ada data periode waktu tertentu di tengah periode pengamatan yang tidak terungkap.

4. Analisis ini membutuhkan analisis lebih lanjut apabila digunaka untuk peramalan, mengingat bahwa regional shift tidak konstan dari suatu periode ke periode lainnya.

5. Tidak dapat dipakai untuk melihat keterkaitan antarsektor.

6. Tidak ada keterkaitan antardaerah.

Model Analisis Shift-share

Dalam uraian berikut akan dijelaskan model analisis Shift-share klasik beserta modifikasinya. Analisis Shift-share Klasik Secara ringkas, dengan analisis Shift-share dapat dijelaskan bahwa perubahan suatu variabel regional siatu sektor di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh pertumbuhan nasional, bauran industri, dan keunggulan kompetitif (Bendavid-Val, 1983; Hoover, 1984).

Dij = Nij + Mij + Cij (1)

Keterangan:

Dij: perubahan suatu variabel regional sektor i di wilayah j dalam kurun waktu tertentu

Nij: komponen pertumbuhan nasional sektor i di wilayah j

Mij: bauran industri sektor i di wilayah j

Cij: keunggulan kompetitif sektor i di wilayah j

Bila analisis itu diterapkan pada variabel regional, misalnya kesempatan kerja, maka tiap komponen dapat didefinisikan sebagai berikut. Perubahan suatu variabel regional suatu sektor sektor di suatu wilayah tertentu juga merupakan perubahan antara kesempatan kerja pada tahun akhir analisis dengan kesempatan kerja pada tahun dasar.

Dij = E*ij – Eij (2)

Keterangan:

E*ij: kesempatan kerja sektor i di wilayah j pada tahun akhir analisis

Eij: kesempatan kerja sektor i di wilayah j pada tahun dasar.

Komponen pertumbuhan nasional suatu sektor di suatu wilayah menunjukkan bahwa

kesempatan kerja tumbuh sesuai dengan laju pertumbuhan nasional.

Nij = Eij.rn (3)

Keterangan:

rn: laju pertumbuhan nasional

Komponen bauran industri suatu sektor di suatu wilayah menunjukkan bahwa kesempatan kerja tumbuh sesuai laju selisih antara laju pertumbuhan sektor tersebut secara nasional dengan laju pertumbuhan nasional. Sementara itu, komponen keunggulan kompetitif suatu sektor di suatu wilayah merupakan kesempatan kerja yang tumbuh sesuai laju selisih antara laju pertumbuhan sektor tersbut di wilayah tersebut dengan laju pertumbuhan sektor tersebut secara nasional.

Mij = Eij (rin – rn) (4)

Cij = Eij (rij – rin) (5)

Keterangan:

rn : laju pertumbuhan nasional

rin: laju pertumbuhan sektor i wilayah j

Masing-masing laju pertumbuhan didefinisikan sebagai berikut.

1. mengukur laju pertumbuhan sektor i di wilayah j

rij = (E*ij – Eij)/Eij (6)

2. mengukur laju pertumbuhan sektor i perekonomian nasional

rin = (E*in – Ein)/Ein (7)

3. mengukur laju pertumbuhan nasional

rn = (E*n – En)/En (8)

Keterangan:

E*in: kesempatan kerja sektor i di tingkat nasional pada tahun terakhir analisis

Ein: kesempatan kerja sektor i di tingkat nasional pada suatu tahun dasar tertentu

E*n: kesempatan kerja nasional pada tahun terakhir analisis

En: kesempatan kerja nasional pada suatu tahun dasar tertentu

Untuk suatu wilayah, pertumbuhan nasional, bauran industri, dan keunggulan kompetitif dapat ditentukan bagi suatu sektor (i) atau dijumlahkan untuk semua sektor sebagai keseluruhan wilayah.

Persamaan Shift-share untuk sektor i di wilayah j adalah :

Dij = Eij.rn + Eij(rin – rn) + Eij(rij – rin) (9)

Persamaan ini membebankan tiap sektor wilayah dengan laju pertumbuhan yang setara dengan laju yang dicapai oleh perekonomian nasional selama kurun waktu analisis. Persamaan (9) menunjukkan bahwa semua wilayah dan sektor-sektor sebaiknya memiliki tingkat pertumbuhan yang paling kecil sama dengan laju pertumbuhan nasional (rn). Perbedaan antara pertumbuhan suatu variabel wilayah dengan pertumbuhan nasional merupakan net gain atau net loss (atau shift) wilayah bersangkutan (Supomo, 1993). Bila tiap komponen (pengaruh) Shift-share dijumlahkan untuk semua sektor, maka tanda hasil penjumlahan itu akan menunjukkan arah perubahan dalam pangsa wilayah kesempatan kerja nasional. Pengaruh bauran industri total akan positif/negatif/nol di semua wilayah bila kesempatan kerja suatu sektor tumbuh di atas/di bawah/sama dengan kesempatan kerja nasional. Demikian pula, pengaruh keunggulan kompetitif total akan positif/negatif/nol di wilayah-wilayah, dimana kesempatan kerja berkembang lebih cepat/lebih lambat atau sama dengan pertumbuhan kesempatan kerja sektor yang bersangkutan di tingkat nasional.

Contoh Penerapan Analisis Shift-share

Analisis Shift-share diterapkan untuk mengkaji pergeseran struktur perekonomian daerah dengan memperhatikan perekonomian daerah yang lebih tinggi. Analisis Shift-share misalnya digunakan untuk menganalisis pergeseran struktur perekonomian tingkat kabupaten/kota dengan memperhatikan perekonomian tingkat provinsi di atasnya atau menganalisis pergeseran struktur perekonomian tingkat provinsi dengan memperhatikan perekonomian nasional. Berikut akan dijelaskan contoh penerapan analisis Shift-share, yaitu menganalisis pergeseran perekonomian Provinsi Sumatera Barat dengan memperhatikan perekonomian nasional (Indonesia).

Analisis Shift-share untuk perekonomian Provinsi Sumatera Barat dilakukan dengan menggunakan variabel regional PDRB sektoral Provinsi Sumatera Barat dan PDB sektoral Indonesia tahun 2001 dan 2004. Nilai PDRB sektoral Provinsi Sumatera Barat tahun 2001 dan 2004 disajikan dalam Tabel 1. Pada Tabel 1, nilai PDRB sektoral Provinsi Sumatera Barat dihitung perubahannya, yaitu selisih antara nilai PDRB tahun dasar dengan tahun analisis. Hal yang sama dilakukan juga pada nilai PDB sektoral Indonesia, disajikan pada Tabel 2.

Berdasarkan data tersebut, nilai PDRB sektoral Provinsi Sumatera Barat telah mengalami perubahan atau perkembangan. Nilai PDRB tersebut tumbuh sebesar 3.847 miliar rupiah atau sebesar 16,22 persen. Sedangkan perekonomian nasional (Indonesia) tumbuh sebesar 230.673 miliar rupiah atau sebesar 18,03 persen. Untuk mengetahui gambaran keadaan perekonomian Provinsi Sumatera Barat terhadap perekonomian Nasional (Indonesia), Tabel 3 menyajikan distribusi PDRB sektoral Provinsi Sumatera Barat dan PDRB sektoral Indonesia tahun 2001 dan 2004.

Analisis Shift-share mensyaratkan untuk menghitung laju pertumbuhan variabel regional yang dianalisis (PDRB sektoral) baik dalam perekonomian wilayah maupun dalam perekonomian nasional. Selain itu, dihitung juga laju pertumbuhan untuk perekonomian nasional. Tabel 4 menyajikan perhitungan tersebut. Setelah rumus dasar yang diperlukan dalam analisis Shift-share dihitung, masing-masing komponen pembentuk rumus dapat dihitung. Ketiga jenis analisis Shift-share mempunyai konsep yang sama dalam mendefinisikan komponen Nij dan Mij. Sedangkan componen Cij telah dimodifikasi untuk melengkapi beberapa kelemahan analisis Shift-share klasik.

Modifikasi terhadap analisis Shift-share klasik oleh Esteban-Marquillas membagi komponen keunggulan menjadi keunggulan kompetitif karena adanya homothetic employment (C’ij) dan keunggulan kompetitif karena efek alokasi (Aij). Sedangkan modifikasi terhadap analisis klasik oleh Archelus adalah mengganti keunggulan kompetitif dengan sebuah komponen yang disebabkan oleh pertumbuhan wilayah (Rij) dan sebuah komponen bauran industri regional (RIij).

Hasil analisis Shift-share menunjukkan bahwa selama tahun 2001-2004, nilai PDRB sektoral Provinsi Sumatera Barat telah mengalami perubahan atau perkembangan. Nilai PDRB tersebut tumbuh sebesar 3.847 miliar rupiah atau sebesar 16,22 (Tabel 1 dan Tabel 5). Sedangkan perekonomian nasional (Indonesia) tumbuh sebesar 230.673 miliar rupiah atau sebesar 18,03 persen (Tabel 2 dan Tabel 5). Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh komponen pertumbuhan nasional (Nij), bauran industri (Mij), dan keunggulan kompetitif (Cij).

Menurut perhitungan komponen pertumbuhan nasional, pertumbuhan ekonomi nasional telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat sebesar 4.277 miliar rupiah atau 111,18 persen. Namun, sebenarnya perkembangan PDRB Provinsi Sumatera Barat hanyalah sebesar 3.847 miliar rupiah (Tabel 5). Hal ini dikarenakan masih ada dua komponen lain yang memberikan pengaruh yaitu bauran industri dan keunggulan kompetitif. Komponen bauran industri menyatakan besar perubahan perekonomian wilayah akibat adanya bauran industri. Hasil analisis menunjukkan bahwa bauran industri memberikan pengaruh yang negatif bagi perkembangan perekonomian Provinsi Sumatera Barat, yaitu sebesar -32 miliar rupiah atau -0,83 persen. Nilai negatif mengindikasikan bahwa komposisi sektor pada PDRB Provinsi Sumatera Barat cenderung mengarah pada perekonomian yang akan tumbuh relatif lambat. Pada Tabel 5 dapat dilihat sektor-sektor yang mendapat pengaruh bauran industri, yaitu Sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih, Sektor Bangunan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, dan Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan.

Perhitungan komponen keunggulan kompetitif dilakukan melalui tiga cara. Cara yang pertama, yaitu menggunakan analisis Shift-share klasik menghasilkan nilai keunggulan kompetitif (Cij) sebesar -398 miliar rupiah atau -10,35 persen, dapat dilihat pada Tabel 5. Nilai ini mengindikasikan bahwa keunggulan kompetitif yang dihasilkan akan mengurangi perkembangan perekonomian Provinsi Sumatera Barat. Namun demikian bukan berarti bahwa perekonomian Provinsi Sumatera Barat sama sekali tidak kompetitif. Hal ini karena meskipun secara agregat nilainya negatif tetapi terdapat sektor yang mempunyai nilai positif, yaitu Sektor Pertanian dan Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih.


Referensi Utama

Badan Pusat Statistik, Sumatera Barat dalam Angka 2004/2005

Bendavid-Val, Avrom, Regional and Local Economic Analysis for Practitioners,Wesport, Connecticut: Praeger, Fourth Edition, 1991.

Dinc, Mustafa, “Regional and Local Economic Analysis Tools”, The World Bank, Washington DC, January 2002.

Soepono, Prasetyo “Analisis Shift-share: Perkembangan dan Penerapan” Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, September 1993.

www.bps.go.id

www.bappenas.go.id/.../&view=85/MODUL-ISIAN-SIMRENAS.pdf

sumber lainnya:

http://www.scribd.com/doc/2908426/Modul-5-ShiftShare-Analysis

Monday, May 2, 2011

Pencemaran Air Sungai

Pencemaran Air Sungai
Tautan
(tentang sungai Part3)

Posting ini adalah lanjutan dari rangkaian tulisan "tentang Sungai", posting ini lanjutan dari Posting "Tentang Sungai Part 1 : defenisi, permasalahan dan karakteristik sungai di Indonesia" dan posting berikutnya yaitu "Tentang Sungai Part 2 : Fungsi-fungsi Sungai" kemudian dilanjutkkan dengan posting ini.

Pencemaran Air Sungai

Sungai merupakan salah satu dari sumber air yang ada di bumi. Dalam PP No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air, pencemaran air didefinisikan sebagai : “pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiaan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya” (Pasal 1, angka 2).

Penyebab terjadinya pencemaran dapat berupa masuknya mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air sehingga menyebabkan kualitas air tercemar. Masukan tersebut sering disebut dengan istilah unsur pencemar, yang pada prakteknya masukan tersebut berupa buangan yang bersifat rutin, misalnya buangan limbah cair. Aspek pelaku/penyebab dapat yang disebabkan oleh alam, atau oleh manusia. Pencemaran yang disebabkan oleh alam tidak dapat berimplikasi hukum, tetapi Pemerintah tetap harus menanggulangi pencemaran tersebut. Sedangkan aspek akibat dapat dilihat berdasarkan penurunan kualitas air sampai ke tingkat tertentu. Pengertian tingkat tertentu dalam definisi tersebut adalah tingkat kualitas air yang menjadi batas antara tingkat tak-cemar (tingkat kualitas air belum sampai batas) dan tingkat cemar (kualitas air yang telah ampai ke batas atau melewati batas) (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992).

Pencemaran terhadap air permukaan dan air tanah pada umumnya bersumber dari kegiatan industri, pertanian dan rumah tangga. Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati yang dapat digolongkan menjadi (Nusa Said, 2002) :

- Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan

warna, bau dan rasa

- Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zat kimia yang terlarut, perubahan pH

- Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan mikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen. (Kualitas Air Minum dan Dampak Pada Kesehatan)

gambar: Kegiatan industri, perumahan (limbah rumah tangga) dan pertanian dekat sungai dapat menjadi sumber pencemaran bagi sungai (sumber gambar: google.com dan dokumen pribadi)

Banyak penyebab sumber pencemaran air, tetapi secara umum dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) yaitu sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA sampah, rumah tangga dan sebagainya. Sumber tak langsung adalah kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah atau atmosfir berupa hujan (Pencemaran Ling. Online, 2003). Pada dasarnya sumber pencemaran air berasal dari industri, rumah tangga (pemukiman) dan pertanian. Tanah dan air tanah mengandung sisa dari aktivitas pertanian misalnya pupuk dan pestisida.


Gambar: sampah yang sering terkumpul (dibuang) dibantaran sungai dapat berpotensi untuk mencemari sungai (sumber gambar: RTH sbg unsur utama pembentuk Taman Kota, 2007)


Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir 100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia tersebut dibuang ke badan air permukaan atau air tanah. Sebagai contoh adalah pestisida yang biasa digunakan di pertanian, industri atau rumah tangga, detergen yang biasa digunakan di rumah tangga

Erat kaitannya dengan masalah indikator pencemaran air, ternyata komponen pencemaran air turut menentukan bagaimana indikator tersebut terjadi. Menurut Wardhana (1995), komponen pencemaran air yang berasal dari industri, rumah tangga (pemukiman) dan pertanian, dapat dikelompokkan sebagai bahan buangan:

a. padat

Yang dimaksud bahan buangan padat adalah adalah bahan buangan yang berbentuk padat, baik yang kasar atau yang halus, misalnya sampah. Buangan tersebut bila dibuang ke air menjadi pencemaran dan akan menimbulkan pelarutan, pengendapan ataupun pembentukan koloidal.

Apabila bahan buangan padat tersebut menimbulkan pelarutan, maka kepekatan atau berat jenis air akan naik. Kadang-kadang pelarutan ini disertai pula dengan perubahan warna air. Air yang mengandung larutan pekat dan berwarna gelap akan mengurangi

penetrasi sinar matahari ke dalam air. Sehingga proses fotosintesa tanaman dalam air akan terganggu. Jumlah oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang, kehidupan organisme dalam air juga terganggu.

Terjadinya endapan di dasar perairan akan sangat mengganggu kehidupan organisme dalam air, karena endapan akan menutup permukaan dasar air yang mungkin mengandung telur ikan sehingga tidak dapat menetas. Selain itu, endapan juga dapat menghalangi sumber makanan ikan dalam air serta menghalangi datangnya sinar matahari.

Pembentukan koloidal terjadi bila buangan tersebut berbentuk halus, sehingga sebagian ada yang larut dan sebagian lagi ada yang melayang-layang sehingga air menjadi keruh. Kekeruhan ini juga menghalangi penetrasi sinar matahari, sehingga menghambat fotosintesa dan berkurangnya kadar oksigen dalam air.

gambar: sampah yang mengapung di atas sungai merupakan salah satu pencemaran bahan padat di sungai (sumber gambar: dokumen pribadi)


b. organic dan olahan bahan makanan

Bahan buangan organic umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga bila dibuang ke perairan akan menaikkan populasi mikroorganisme. Kadar BOD dalam hal ini akan naik. Tidak tertutup kemungkinan dengan berambahnya mikroorganisme dapat berkembang pula bakteri pathogen yang berbahaya bagi manusia. Demikian pula untuk buangan olahan bahan makanan yang sebenarnya adalah juga bahan buangan organic yang baunya lebih menyengat. Umumnya buangan olahan makanan mengandung protein dan gugus amin, maka bila didegradasi akan terurai menjadi senyawa yang mudah menguap dan berbau busuk (misal. NH3)

c. anorganik

Bahan buangan anorganik sukar didegradasi oleh mikroorganisme, umumnya adalah logam. Apabila masuk ke perairan, maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam dalam air. Bahan buangan anorganik ini biasanya berasal dari limbah industri yang melibatkan penggunaan unsure-unsur logam seperti timbal (Pb), Arsen (As), Cadmium (Cd), air raksa atau merkuri (Hg), Nikel (Ni), Calsium (Ca), Magnesium (Mg) dll. Kandungan ion Mg dan Ca dalam air akan menyebabkan air bersifat sadah. Kesadahan air yang tinggi dapat merugikan karena dapat merusak peralatan yang terbuat dari besi melalui proses pengkaratan (korosi). Juga dapat menimbulkan endapan atau kerak pada peralatan.

Apabila ion-ion logam berasal dari logam berat maupun yang bersifat racun seperti Pb, Cd ataupun Hg, maka air yang mengandung ion-ion logam tersebut sangat berbahaya

bagi tubuh manusia, air tersebut tidak layak minum.

d. cairan berminyak

Bahan buangan berminyak yang dibuang ke air lingkungan akan mengapung menutupi permukaan air. Jika bahan buangan minyak mengandung senyawa yang volatile, maka akan terjadi penguapan dan luas permukaan minyak yang menutupi permukaan air akan menyusut. Penyusutan minyak ini tergantung pada jenis minyak dan waktu. Lapisan minyak pada permukaan air dapat terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, tetapi membutuhkan waktu yang lama. Lapisan minyak di permukaan akan mengganggu mikroorganisme dalam air. Ini disebabkan lapisan tersebut akan menghalangi diffusi oksigen dari udara ke dalam air, sehingga oksigen terlarut akan berkurang. Juga lapisan tersebut akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam air, sehingga fotosintesapun terganggu.

Gambar: pencemaran minyak di sungai sangat berpotensi merusak kehidupan mikroorganisme sungai (sumber gambar:google.com)

e. berupa panas

Perubahan kecil pada temperatur air lingkungan bukan saja dapat menghalau ikan atau spesies lainnya, namun juga akan mempercepat proses biologis pada tumbuhan dan hewan bahkan akan menurunkan tingkat oksigen dalam air. Akibatnya akan terjadi kematian pada ikan atau akan terjadi kerusakan ekosistem. Untuk itu, polusi thermal inipun harus dihindari. Sebaiknya industri-industri jika akan membuang air buangan ke perairan harus memperhatikan hal ini.

f. zat kimia

Bahan buangan Zat Kimia (berupa sabun dan deterjen) di dalam air lingkungan akan mengganggu karena alasan berikut :

  • Larutan sabun akan menaikkan pH air sehingga dapat menggangg kehidupan organisme di dalam air. Deterjen yang menggunakan bahan non-Fosfat akan menaikkan pH air sampai sekitar 10,5-11
  • Bahan antiseptic yang ditambahkan ke dalam sabun/deterjen juga mengganggu kehidupan mikro organisme di dalam air, bahkan dapat mematikan
  • Ada sebagian bahan sabun atau deterjen yang tidak dapat dipecah (didegradasi) oleh mikro organisme yang ada di dalam air. Keadaan ini sudah barang tentu akan merugikan lingkungan. Namun akhir-akhir ini mulai banyak digunakan bahan sabun/deterjen yang dapat didegradsi oleh mikroorganisme.


Sumber lainnya:

Warlina Lina, 2005 Pencemaran Air: Sumber, Dampak dan Penanggulangannya, FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta.


hmm... untuk lebih dalam tentang pencemaran, dapat download buku tentang pencemaran air "Risk analisys of water pollution" dengan link dibawah ini:

http://uploading.com/files/bfd3557c/352732173XWaterPollution.rar/